kumpulan tugas kuliah dan catatan pribadi

Latest News - psikologi

youtube

Keanekaragaman hayati (Biodiversitas)

Kamis, 25 November 2010

Keanekaragaman hayati (Biodiversitas)

Disusun oleh
Bayu prastowo 2302409032
Miftahur rohim 2111409004
M. Arif Riyan 8111409249
Mukhamad zaenal 1511409056
Wachid 3301409047
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010

Bab 1. Pendahuluan

1. Latar Belakang

Di lingkungan sekitar kita, kita dapat menemui berbagai jenis makhluk hidup. Berbagai jenis hewan misalnya ayam, kucing, serangga, dan sebagainya, dan berbagai jenis tumbuhan misalnya mangga, rerumputan, jambu, pisang, dan masih banyak lagi jenis tumbuhan di sekitar kita. Masing-masing makhluk hidup memiliki ciri tersendiri sehingga terbentuklah keanekaragaman makhluk hidup yang disebut dengan keanekaragaman hayati atau biodiversitas.
Di berbagai lingkungan, kita dapat menjumpai keanekaragaman makhluk hidup yang berbeda-beda. Keanekaragaman itu meliputi berbagai variasi bentuk, warna, dan sifat-sifat lain dari makhluk hidup. Sedangkan di dalam spesies yang sama terdapat keseragaman. Setiap lingkungan memiliki keanekaragaman hayati masing-masing.
Indonesia adalah negara yang termasuk memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi. Taksiran jumlah utama spesies sebagai berikut. Hewan menyusui sekitar 300 spesies, burung 7.500 spesies, reptil 2.000 spesies, tumbuhan biji 25.000 spesies, tumbuhan paku-pakuan 1.250 spesies, lumut 7.500 spesies, ganggang 7.800, jamur 72.000 spesies, serta bakteri dan ganggang hijau biru 300 spesies. Dari data yang telah disebutkan, itu membuktikan bahwa tingkat biodiversitas di Indonesia sangatlah tinggi.

2. Tujuan Penelitian

Tujuan kami menyusun makalah ini antara lain:
2.1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah pendidikan lingkungan hidup
2.2. Menambah wawasan mahasiswa akan keanekaragaman hayati dan manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia.

3. Metode Penelitian

Metode penelitian yang kami gunakan untuk mencari sumber-sumber untuk pembuatan makalah ini adalah dengan cara:
3.1. pengumpulkan data dari buku dan internet berkenaan dengan keanekaragaman hayati.
3.2. observasi atau pengamatan langsung di kawasan lingkungan unnes tentang keanekaragaman hayati yang berada di lingkungan tersebut.
Bab 2. Pembahasan
A. Pengertian keanekaragaman hayati
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas (biodiversity) adalah semua kehidupan diatas bumi ini baik tumbuhan, hewan, jamur dan mikrioorganisme, serta berbagai materi genetik yang dikandungnya dan keanekaragaman sistem ekologi di mana mereka hidup. Termasuk didalamnya kelimpahan dan keanekaragaman genetik relatif dari organisme-organisme yang berasal dari semua habitat baik ada yang ada di darat, laut maupun sistem-sistem perairan lainnya.
Keanekaragaman hayati dapat terjadi pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai organisme tingkat tinggi. Misalnya dari makhluk bersel satu hingga makhluk bersel banyak; dan tingkat organisme kehidupan individu sampai tingkat interaksi kompleks, misalnya dari spesies sampai ekosistem.
Setiap saat kita dapat menyaksikan berbagai macam makhluk hidup yang ada di sekitar kita baik di daratan maupun di perairan. Misalnya, dihalaman rumah, kebun, sawah, atau di hutan. Di tempat itu dapat kita jumpai bermacam-macam makhluk hidup mulai dari makhluk yang berukuran kecil seperti semut hingga makhluk berukuran besar seperti burung, ular, atau gajah. Mulai dari yang berwarna gelap hingga makhluk yang berwarna cerah dan menarik.
Begitu juga dengan tumbuhan, kita dapat mengamati tumbuhan didaratan atau di lautan dengan jenis, ukuran, warna dan bentuk yang beragam. Di daratan misalnya dapat kita jumpai rumput, pohon, jambu, durian, salak, apel, dan sebaainya. Di perairan terdapat rumput laut dan jenis tumbuhan lain yang dapat hidup di laut.
Setiap makhluk hidup memiliki ciri dan tempat hidup yang berbda. Melalui pengamatan, kita dapat membedakan jenis-jenis makhluk hidup. Pembedaan makhluk hidup tanpa dibuat berdasarkan bentuk, ukuran, warna, tempat hidup, tingkah laku, cara berkembang biak, dan jenis makanan.
Perbedaan atau keanekaragaman hayati dapat disebabkan oleh faktor abiotik maupun oleh faktor biotik. Perbedaan keadaan udara, cuaca, tanah, kandungan air, dan intensitas cahaya matahari menyebabkan adanya perbedaan hewan dan tumbuhan yang hidup. Hal tersebut mengakibatkan adanya keanekaragaman hayati.
Pada umumnya pola distribusi penyebaran tumbuhan dan hewan dikendalikan oleh faktor abiotik seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Perubahan pada faktor abiotik dapat menyebabkan organisme berkembang dan melakukan spesialisasi.

Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Dua negara lainnya adalah Brasil dan Zaire. Tetapi dibandingkan dengan Brazil dan Zaire, Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya adalah di samping memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki areal tipe indo-malaya yang luas, juga tipe oriental, australia, dan peralihannya. Selain itu, di Indonesia terdapat banyak hewan dan tumbuhan langka, serta spesies endemik.
1. Memiliki Keanekaragaman Hayati Tinggi
Indonesia terletak di daerah tropik sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim kutub). Keanekaragaman tinggi di Indonesia dapat dijumpai di dalam lingkungan hutan tropik. Jika di hutan iklim sedang dijumpai satu atau dua jenis pohon, maka di areal yang sama di dalam hutan hujan tropik memiliki keanekaragaman hayati sekitar 300 kali lebih besar dibandingkan dengan hutan iklim sedang.
Di dalam hutan hujan tropik terdapat berbagai jenis tumbuhan (flora) dan fauna yang belum dimanfaatkan, atau masih liar. Di dalam tubuh hewan dan tumbuhan itu tersimpan sifat-sifat unggul, yang mungkin dapat dimanfaatkan di masa mendatang. Sifat-sifat unggul itu misalnya tumbuhan yang tahan penyakit, tahan kekeringan, dan tahan terhadap kadar garam yang tinggi. Ada pula yang memiliki sifat menghasilkan bahan kimia beracun. Jadi, di dalam dunia hewan dan tumbuhan, baik yang sudah dibudidayakan maupun belum, terdapat sifat-sifat unggul yang perlu dilestarikan.

2. Memiliki Tumbuhan Tipe Indo-Malaya yang Arealnya Luas

Tumbuhan di Indonesia merupakan bagian dari daerah geografi tumbuhan indo-malaya, seperti yang dinyatakan oleh Ronald D. Good dalam bukunya The Geography of Flowering Plants. Flora indo-malaya meliputi tumbuhan yang hidup di India, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Philipina. Flora yang tumbuh di Malaysia, Indonesia, dan Philipina sering disebut sebagai kelompok flora malenesia.
Mengapa Malaysia, Indonesia, dan Philipina memiliki rumpun tumbuhan bunga yang sama? Hal ini dipengaruhi oleh sejarah pembentukan daratan (geologi), kondisi iklim yang serupa (sama-sama beriklim tropis), ketinggian topografi yang serupa, dan kondisi fisika dan kimia tanah yang serupa pula.
Hutan di Indonesia dan hutan-hutan di daerah flora malenesia memiliki kurang lebih 248.000 spesies tumbuhan tinggi. Jumlah ini kira-kira setengah dari seluruh spesies tumbuhan di bumi. Hutan hujan tropik di malenesia didominasi oleh pohon dari famili Dipterocarpaceae, yaitu pohon-pohon yang menghasilkan biji bersayap. Biasanya Dipterocarceae merupakan tumbuhan tertinggi. Tumbuhan yang termasuk famili Dipterocarpaceae misalnya keruing (dipterocarus spp.), meranti (Shorea spp.), kayu garu (Gonystylus bancanus), dan kayu kapur (Dyrobalanops aromatica).
Hutan di Indonesia merupakan bioma hutan hujan tropik, dicirikan dengan kanopi yang rapat dan banyak tumbuhan liana (tumbuhan yang memanjat). Tumbuhan khas seperti durian (Durio zibethinus), mangga (Mangifera indica), dan sukun (Artocarpus) di Indonesia tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi. Tumbuhan-tumbuhan ini juga terdapat di Malaysia dan Philipina. Di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa terdapat tumbuhan endemik Rafflesia arnoldii. Tumbuhan Rafflesia tumbuh di akar atau batang tumbuhan pemanjat sejenis anggur liar, yaitu Telrastigma.
Di Indonesia bagian timur, tipe hutannya agak berbeda. Mulai dari Sulawesi sampai Irian Jaya (Papua) terdapat hutan hujan non-Dipterocarpaceae. Hutan ini kebanyakan menduduki lahan datar. Pohon-pohonnya rendah, hanya beberapa yang mencapai 30-40 m, Di antaranya adalah Ficus (kerabat beringin) dan matoa (Pometia pumata). Pohon matoa merupakan tumbuhan endemik di Irian. Namun kini bibit buahnya telah diintroduksi ke beberapa tempat di Pulau Jawa dan telah berbuah.
Selain hutan-hutan di atas, di Indonesia masih terdapat beberapa tipe hutan lain misalnya, hutan kerangas yang terdapat di sela-sela hutan hujan. Disini terdapat pohon yang mencapai 30 m. Hutan monsun tersebar pada ketinggian 0 sampai 800 m di daerah kering seperti Jawa Timur, NTT, Sulawesi Selatan dan Tenggara serta Irian Jaya (Papua). Di sini pohon dapat mencapai ketinggian 25 m. Di tempat-tempat tersebut terdapat pula hutan savana, yang berupa padang rumput dengan pepohonan yang terpencar.

3. Memiliki Hewan Tipe Oriental (Asia), Australia, Serta Perlalihannya

Ketika Alfred Russel Wallace mengunjungi Indonesia pada tahun 1856, ia menemukan perbedaan besar fauna di beberapa daerah di Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). Ketika ia mengunjungi Bali dan Lombok, ia menemukan perbedaan hewan di kedua daerah tersebut. Di Bali, terdapat banyak hewan yang mirip dengan hewan-hewan yang mirip hewan-hewan Asia (Oriental), sedangkan di Lombok hewan-hewannya mirip dengan Australia. Oleh sebab itu, kemudian ia membuat garis pemisah yang memanjang mulai dari Selat Lombok ke Utara melewati Selat Makasar dan Philipina Selatan. Garis ini disebut Garis Wallace.
Indonesia terbagi menjadi dua zoogeografi yang dibatasi oleh Garis Wallace. Garis Wallace membelah Selat Makasar menuju ke Selatan hingga ke Selat Lombok. Jadi, Garis Wallace memisahkan wilayah oriental (termasuk Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan) dengan wilayah Australia (Sulawesi, Irian, Maluku, Nusa Tenggara Barat dan Timur).
Setelah Wallace, Weber seorang ahli zoologi Jerman juga mengadakan penelitian tentang penyebaran hewan-hewan di Indonesia. Weber melihat bahwa hewan-hewan di Sulawesi tidak dapat sepenuhnya dikelompokkan sebagai hewan-hewan kelompok Australia. Hewan-hewan tersebut ada yang memiliki sifat-sifat seperti halnya hewan-hewan di daerah Oriental. Oleh sebab itu, Weber mengatakan bahwa fauna di Sulawesi merupakan fauna peralihan. Weber kemudian membuat garis pembatas yang berada di sebelah timur Sulawesi memanjang ke Utara ke Kepulauan Aru. Pulau Sulawesi merupakan pulau pembatas antara wilayah Oriental dan Australia atau merupakan wilayah peralihan yang paling mencolok. Sulawesi dihuni oleh sebagian hewan Oriental dan sebagian hewan Australia. Contohnya di Sulawesi terdapat oposum dari Australia namun juga terdapat kera macaca dari Oriental.

3.1 Fauna Daerah Oriental

Hewan-hewan di bagian barat Indonesia (Oriental) yang meliputi Sumatera, Jawa dan Kalimantan, serta pulau-pulaunya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1). Banyak spesies mamalia yang berukuran besar, misalnya gajah, banteng, harimau, badak. Mamalia berkantung jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.
2). Terdapat berbagai macam kera. Kalimantan merupakan pulau yang paling kaya kan jenis-jenis primata. Ada tiga jenis primata, misalnya bekantan, tarsius, loris hantu, orang utan.
3). Terdapat hewan endemik, seperti:
  • Badak bercula satu di Ujung Kulon
  • Binturong (Arctictis binturong), hewan sebangsa beruang tapi kecil
  • Monyet Presbytis thomasi
  • Tarsius (Tarsius bancanus)
  • Kukang (Mycticebus coucang)
4). Burung-burung Oriental memiliki warna yang kurang menarik dibanding burung-burung di daerah Australia, tetapi dapat berkicau. Burung-burung yang endemik misalnya jalak bali (Leucopsar rothschildi), elang jawa, murai mengkilat (Myophoneus melurunus), elang putih (Mycrohyerax latifrons), ayam hutan berdada merah (Arborphila hyperithra), ayam pegar.

3.2 Fauna Daerah Australia

Jenis-jenis hewan di Indonesia bagian Timur, yaitu Irian, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, relatif sama dengan Australia. Ciri-ciri hewan di Indonesia bagian Timur adalah:
1). Mamalia berukuran kecil
2). Banyak hewan berkantung
3). Tidak terdapat spesies kera
4). Jenis-jenis burung memiliki warna yang beragam
Irian Jaya memiliki 110 spesies mamalia, termasuk di dalamnya 13 spesies mamalia berkantung, misalnya kanguru (Dendrolagus ursinus dan Dendrolagus inustus), kuskus (Spilocus maculatus), bandicot, dan oposum. Di Irian juga terdapat 27 spesies hewan pengerat (rodentia), dan 17 di antaranya merupakan spesies endemik. Irian Jaya memiliki koleksi burung terbanyak dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia, kira-kira ada 320 jenis, dan setengah di antaranya merupakan spesies endemik. Burung cendrawasih yang terkenal terdapat di Irian dan beberapa pulau di Maluku.
Di Nusa Tenggara, terutama di pulau Komodo, Padar, dan Rinca terdapat reptilia terbesar, yaitu komodo. Komodo merupakan reptilia purba yang bertahan hidup hingga kini.
Sulawesi merupakan daerah peralihan yang mencolok menurut garis Weber. Hewan-hewan yang terdapat di pulau itu berasal dari oriental dan Australia. Di Sulawesi terdapat banyak hewan endemik, misalnya primata primitif Tarsius sectrum, musang sulawesi (Macrogalida musschenbroecki), babirusa, anoa, maleo, dan beberapa jenis kupu-kupu.

4. Memiliki Banyak Hewan dan Tumbuhan Langka

Di Indonesia banyak terdapat hewan dan tumbuhan yang telah langka. Hewan langka misalnya:
  • Babirusa (Babyrousa babyrussa)
  • Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
  • Harimau jawa (Panthera tigris sondanicus)
  • Macan kumbang (Panthera pardus)
  • Orangutan (Pongo pygmaeus abelii)
  • Badak sumatera (Decerorhinus sumatrensis)
  • Tapir (Tapirus indicus)
  • Gajah asia (Elephas maximus)
  • Bekantan (Nasalis larvatus)
  • Komodo (Varanus komodoensis)
  • Banteng (Bos sondaicus)
  • Cendrawasih (Paradisaea minor)
  • Kanguru pohon (Dendrolagus ursinus)
  • Maleo (Marcochephalon maleo)
  • Kakatua raja (Probosciger atterimus)
  • Rangkong (Buceros rhinoceros)
  • Kasuari (Casuarius casuarius)
  • Buaya muara (Crocodylus porosus)
  • Buaya irian (Crocodylus novaeguinae)
  • Penyu tempayan (Caretta caretta)
  • Penyu hijau (Chelonia mydas)
  • Sanca bodo (Phyton molurus)
  • Sanca hijau (Chondrophyton viridis)
  • Bunglon sisir (Gonyochepalus dilophus)
Tumbuh-tumbuhan langka misalnya:
  • Bedali (Radermachera gigantea)
  • Putat (Planhonia valida)
  • Kepuh (Stereula foetida)
  • Bungur (Lagerstromia speciosa)
  • Nangka celeng (Artocarpus heterophyllus)
  • Kluwak (Pangium edule)
  • Bendo (Artocarpus elasticus)
  • Mundu (Garcinia dulcis)
  • Sawo kecik (Manilkara kauki)
  • Winong (Tertrameles nudiflora)
  • Sanca hijau (Pterospermum javanicum)
  • Gandaria (Bouea marcophylla)
  • Matoa (Pometis pinnata)
  • Sukun berbiji (Artocarpus communis)
5. Memiliki Banyak Hewan dan Tumbuhan Endemik
Di Indonesia terdapat hewan dan tumbuhan endemik. Hewan dan tumbuhan endemik Indonesia artinya hewan dan tumbuhan itu haya ada di Indonesia, tidak terdapat di negara lain.
Hewan endemik misalnya harimau jawa, harimau bali (sudah punah), jalak bali putih di Bali, badak bercula satu di Ujung Kulon, biturong, monyet Presbytis thomasi, tarsius, kukang, maleo hanya di Sulawesi, komodo di Pulau Komodo dan sekitarnya.
Tumbuhan yang endemik terutama dari genus Rafflesia arnoldii (endemik di Sumatera Barat, Bengkulu, dan Aceh), R. borneensis (Kalimantan), R. ciliata (Kalimantan Timur), R. horsfilldii (Jawa), R. patma (Nusa Kambangan dan Pangandaran), R. rochussenii (Jawa Barat), dan R. contleyi (Sumatera bagian timur).
Secara garis besar, keanekaragaman hayati terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu :
1.
Keanekaragaman gen
“Bahan baku” keanekaragaman sebenarnya terletak pada gen. Gen adalah faktor pembawa sifat yang menentukan sifat makhluk hidup. Gen terletak di dalam benang kromosom, yakni benang-benang pembawa sifat yang terdapat di dalam inti sel makhluk hidup. Pada manusia, sifat rambut lurus, hidung mancung, mata lebar, warna kulit, dtentukan oleh gen.
Gen adalah materi yang mengendalikan sifat atau karakter. Jika gen berubah, maka sifat-sifat pun akan berubah. Sifat-sifat yang ditentukan oleh gen disebut genotipe. Ini dikenal sebagai pembawaan. Meskipun termasuk spesies yang sama, tidak ada satu individu yang persis sama dengan yang lain, karena adanya keanekaragaman gen. sekilas, memang ada kemiripan bentuk luar. Namun jika diamati, akan terdapat variasi sifat sehingga tampaklah adanya keanekaragaman.
Perbedaan gen tidak hanya terjadi antar jenis. Di dalam satu jenis (spesies) pun terjadi keanekaragaman gen. dengan adanya keanekaragaman gen, maka sifat-sifat di dalam satu spesies bervariasi.
1.1 Variasi dan Varietas
Varisasi antarindividu yang sejenis tidak hanya terdapat pada tumbuhan tetapi juga pada manusia. Misalnya, di dalam suatu keluarga terdapat anak-anak yang memiliki sifat berbeda. Ada yang bulu matanya lentik dan ada yang tidak, ada yang berkumis ada yang tidak, ada yang berbadan kekar ada yang tidak. Ukuran biji kacang dari satu pohon bervariasi, ada yang kecil, ada yang sedang, ada pula yang besar. Warna bulu ayam sering beraneka ragam.
Keanekaragaman gen dapat memunculkan varietas. Misalnya ada varietas padi PB, rojo lele, dan varietas padi tahan wereng. Varietas kelapa juga bermacam-macam. Demikian juga adanya berbagai varietas mangga, ayam, dan kambing. Secara sekilas penampakan antarvarietas itu berbeda, karena masih tergolong jenis yang sama. Akan tetapi, setiap varietas memiliki gen yang berbeda sehingga memunculkan sifat-sifat khas yang dimiliki oleh masing-masing varietas itu.
1.2 Keanekaragaman Fenotipe dan Genotipe
Keanekaragaman genotipe jangan dikacaukan dengan keanekaragaman fenotipe. Karena lingkungan yang berbeda, sifat yang mucul pada individu dapat berbeda meskipun genotipenya sama. Perpaduan antara genotipe dengan lingkungan menghasilkan sifat yang tampak dari luar yang dikenal sebagai fenotipe.
Misalnya, apel batu yang biasa hidup di dataran tinggi, dicangkok kemudian ditanam di Malang, yaitu kota yang letaknya lebih rendah daripada Batu. Tanaman cangkok itu secara genotipe sama dengan induknya. Namun karena lingkungan kota Batu berbeda dengan kota Malang, akan mucnul tanaman apel yang ukuran buahnya kecil dan rasanya lebih asam. Jadi, terdapat perbedaan fenotipe antara apel yang ditanam di Batu dan di Malang, meskipun gennya sama. Jadi, gen yang sama (genotipe sama) dapat menampakkan sifat (fenotipe) yang berbeda karena lingkungannya berbeda.
Genotipe juga dapat berubah karena perkawinan atau persilangan. Menanam biji jeruk manis belum tentu menghasilkan jeruk yang manis pula, meskipun lingkungannya sama. Hal ini terjadi karena perubahan genotipe akibat persilangan. Tanaman hasil mencangkok, genotipenya pasti sama dan akan menampakkan fenotipe yang asal lingkungannya sama.
Demikianlah, terdapat keanekaragaman gen di dalam spesies yang sama hingga memunculkan variasi tingkat spesies yang dikenal sebagai varietas.
Setiap sifat organisme hidup dikendalikan oleh sepasang faktor keturunan (gen), satu dari induk jantan dan lainnya dari induk betina. Keanekaragaman tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dalam satu jenis.
misalnya :
- variasi jenis kelapa : kelapa gading, kelapa hijau
- variasi jenis anjing : anjing bulldog, anjing herder, anjing kampung
Yang membuat variasi tadi adalah :
Rumus : F = G + L
F = fenotip
G = genotif
L = lingkungan
Jika G berubah karena suatu hal (mutasi dll) atau L berubah maka akan terjadi perubahan di F. Perubahan inilah yang menyebabkan terjadinya variasi tadi.
2.
Keanekaragaman jenis (spesies)
Keanekaragaman ini lebih mudah diamati daripada Keanekaragaman gen. Keanekaragaman hayati tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya beraneka macam jenis mahluk hidup baik yang termasuk kelompok hewan, tumbuhan dan mikroba.
misalnya :
- variasi dalam satu famili antara kucing dan harimau. Mereka termasuk dalam satu famili(famili/keluarga Felidae) walaupun ada perbedaan fisik, tingkah laku dan habitat.
Di dalam satu jenis dijumpai keseragaman individu, namun antarjenis dijumpai keanekaragaman individu.
Di lingkungan sekitar kita dapat dijumpai berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Di dalam satu famili rumput (Gramineae) dapat dijumpai rumput grinting, padi, jagung, rumput gajah. Di dalam golongan burung dapat dijumpai itik, ayam, bebek, angsa, merpati, dan burung parkit.
Sangat mudah menentukan keanekaragaman jenis karena dapat kita amati perbedaan sifat dengan jelas. Di seluruh dunia diperkirakan terdapat 500 juta spesies makhluk hidup.
3.
Keanekaragaman ekosistem
Antara makhluk hidup yang satu dengan yang lain (baik di dalam jenis maupun antarjenis) terjadi interaksi. Ini dikenal sebagai interaksi biotik, yang membentuk suatu komunitas. Antara makhluk hidup dengan lingkungan fisik yaitu suhu, cahaya, dan lingkungan kimiawi yaitu air, mineral, keasaman, juga terjadi interksi. Ini terkenalsebagai interaksi biotik-abiotik yang membentuk sistem lingkungan atau ekosistem.
Kondisi lingkungan beraneka ragam. Ada lingkungan yang banyak air, ada yang tidak. Ada lingkungan yang banyak emndapatkan cahaya matahari, ada yang sedikit. Demikian pula halnya dengan suhu, kelembapan, mineral, pH, kadar garam, ketinggian. Di dalam lingkungan yang berbeda dapat dijumpai keanekaragaman hayati yang berbeda. Sebagai contoh, di lingkungan pantai dapat ditemukan pohon kelapadan hutan bakau, sedangkan di lingkungan pegunungan dijumpai pohon pinus, apel, dan sayuran. Dengan beranekaragamnya kondisi lingkungan dan keanekaragaman hayati, maka terbentuklah keanekaragaman ekosistem.
Di Indonesia, mulai dari daerah pantai hingga puncak Jayawijaya yaitu Puncak Sukarno yang tertutup es di Irian Jaya, diperkirakan terdapat 47 macam ekosistem. Beberapa ekosistem itu misalnya ekosistem hutan bakau, ekosistem hutan hujan tropik, ekosistem padang rumput (savana), ekosistem sawah, ekosistem kota, dll.
Keanekaragaman tingkat ini dapat ditunjukkan dengan adanya variasi dari ekosistem di biosfir.
misalnya :
ekosistem lumut, ekosistem hutan tropis, ekosistem gurun, masing-masing ekosistem memiliki organisme yang khas untuk ekosistem tersebut. misalnya lagi, ekosistem gurun di dalamnya ada unta, kaktus, dan ekosistem hutan tropis di dalamnya ada harimau.
Ketiga macam keanekaragaman tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Ketiganya dipandang sebagai suatu keseluruhan atau totalitas yaitu sebagai keanekaragaman hayati.
B. Manfaat keanekaragaman hayati
Pemanfaatan keanekaragaman hayati bagimasyarakat harus secara berkelanjutan. Yang dimaksud dengan manfaat yang berkelajutan adalah manfaat yang tidak hanya untuk generasi sekarang tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Keanekaragaman hayati dapat memberikan manfaat, baik secara ekonomi, ilmu pengetahuan, sosial dan budaya.
1. Manfaat dari Segi Ekonomi
Jenis hewan (fauna) dan tumbuhan (flora) dapat diperbarui dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Beberapa jenis kayu memiliki manfaat bagi kepentingan masyarakat Indonesia maupun untuk kepentingan ekspor. Jenis kayu-kayu tersebut antara lain adalah kayu ramin, gaharu, meranti, dan jati jika di ekspor akan menghasilkan devisa bagi negara. Beberapa tumbuhan juga dapat dijadikan sebagai sumber makanan yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin serta ada tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat-oabatan dan kosmetika. Sumber daya yang berasal dari hewan dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan dan untuk kegiatan industri.
Dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan yang dapat dijadikan sumber daya alam yang bernilai ekonomi. Laut, sungai, dan tambak merupakan sumber-sumber perikanan yang berpotensi ekonomi. Beberapa jenis diantaranya dikenal sebagai sumber bahan makanan yang mengandung protein.
2. Manfaat dari Segi Wisata dan Ilmu Pengetahuan
Kekayaan aneka flora dan fauna sudah sejak lama dimanfaatkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Hingga saat ini masih banyak jenis hewan dan tumbuhan yang belum dipelajari dan belum diketahui manfaatnya. Dengan demikian keadaan ini masih dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan pengetahuan dan penelitian bagi berbagai bidang pengetahuan. Misalnya penelitian mengenai sumber makanan dan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan. Umumnya secara langsung manusia menjadikan hewan sebagai objek wisata atau hiburan.
3. Manfaat dari Segi Sosial dan Budaya
Masyarakat Indonesia ada yang menetap di wilayah pegunungan, dataran rendah, maupun dekat dengan wilayah perairan. Masyrakat tersebut telah terbiasa dan menyatu dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Kegiatan memanen hasil hutan maupun pertanian merupakan kebiasaan yang khas bagi masyarakat yang tinggal di pegunungan atau dataran tinggi.
Masyarakat tersebut yang hidup berdekatan dengan laut, sungai, dan hutan memiliki aturan tertentu dalam upaya memanfaatkan tumbuhandan hewan. Masyarakat memiliki kepercayaan tersendiri mengenai alam. Dengan adanya aturan-aturan tersebut, keanekaragaman hayati akan terus terjaga kelestariannya.

4. Sebagai Sumber Pangan, Perumahan, dan Kesehatan

Kehidupan manusia yang bergantung pada keanekaragaman hayati. Hewan dan tumbuhan yang kita manfaatkan saat ini (misalnya ayam, kambing, padi, jagung) pada zaman dahulu juga merupakan hewan dan tumbuhan liar, yang kemudian dibudidayakan. Hewan dan tumbuhan liar itu dibudidayakan karena memiliki sifat-sifat unggul yang diharapkan manusia. Sebagai contoh, ayam dibudidayakan karena menghasilkan telur dan daging. Padi dibudidayakan karena menghasilkan beras. Beberapa contoh tumbuhan dan hewan yang memiliki peranan penting untuk memenuhi kebutuhan pangan, perumahan, dan kesehatan, misalnya:
a). Pangan: berbagai biji-bijian (padi, jagung, kedelai, kacang), berbagai umbi-umbian (ketela, singkong, suwek, garut, kentang), berbagai buah-buahan (pisang, nangka, mangga, jeruk, rambutan), berbagai hewan ternak (ayam, kambing, sapi).
b). Perumahan: kayu jati, sonokeling, meranti, kamfer.
c). Kesehatan: kunyit, kencur, temulawak, jahe, lengkuas.
5. Sebagai Sumber Plasma Nutfah
Hewan, tumbuhan, dan mikroba yang saat ini belum diketahui tidak perlu dimusnahkan, karena mungkin saja di masa yang akan datang akan memiliki peranan yang sangat penting. Sebgai contoh, tanaman mimba (Azadirachta indica),. Dahulu tanaman ini hanya merupakan tanaman pagar, tetapi saat ini diketahui mengandung zat azadiktrakhtin yang memiliki peranan sebagai anti hama dan anti bakteri. Adapula jenis ganggang yang memiliki kendungan protein tinggi, yang dapat digunakan sebagai sumber makanan masa depan, misalnya Chlorella. Buah pace (mengkudu) yagn semula tidak dimanfaatkan, sekarang diketahui memiliki khasiat untuk meningkatkan kebugaran tubuh, mencegah dan mengobati penyakit tekanan darah.
Di hutan atau lingkungan kita, masih terdapat tumbuhan dan hewan yang belum dibudidayakan, yang mungkin memiliki sifat-sifat unggul. Itulah sebabnya dikatakan bahwa hutan merupakan sumber plasma nutfah (sifat-sifat unggul). Siapa tahu kelak sifat-sifat unggul itu dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia.

6. Manfaat Ekologi

Selain berfungsi untuk menunjuang kehidupan manusia, keanekaragaman hayati memiliki peranan dalam mempertahankan keberlanjutan ekosistem. Masing-masing jenis organisme memiliki peranan dalam ekosistemnya. Peranan ini tidak dapat digantikan oleh jenis yang lain. Sebagai contoh, burung hantu dan ular di ekosistem sawah merupakan pemakan tikus. Jika kedua pemangsa ini dilenyapkan oleh manusia, maka tidak ada yang mengontrol populasi tikus. Akibatnya perkembangbiakan tikus meningkat cepat dan di mana-mana terjadi hama tikus.
Tumbuhan merupakan penghasil zat organik dan oksigen, yang dibutuhkan oleh organisme lain. Selain itu, tumbuh-tumbuhan dapat membentuk humus, menyimpan air tanah, dan mencegah erosi. Keanekaragaman yang tinggi memperkokoh ekosistem. Ekosistem dengan keanekaragaman yang rendah merupakan ekosistem yang tidak stabil. Bagi manusia, keanekaragaman yang tinggi merupakan gudang sifat-sifat unggul (plasma nutfah) untuk dimanfaatkan di kemudian hari.

7. Manfaat Keindahan

Keindahan alam tidak terletak pada keseragaman tetapi pada keanekaragaman. Bayangkan bila halaman rumah kita hanya ditanami satu jenis tanaman saja, apakah indah? Tentu saja akan lebih indah apabila ditanami berbagai tanaman seperti mawar, melati, anggrek, rumput, palem.
Kini kita sadari bahwa begitu banyak manfaat keanekaragaman hayati dalam hidup kita. Pemanfaatannya yang begitu banyak dan beragam tentu saja dapat mengancam kelestariannya. Untuk itu kita harus bijaksana dalam memanfaatkan keanekaragaman hayati, dengan mempertimbangkan aspek manfaat dan aspek kelestariannya.
C. hilangnya keanekaragaman hayati
Saat ini tidak sedikit hutan yang rusak, akibatnya kehidupan hewan di dalamnya akan terganggu.

1. Hilangnya Habitat
Salah satu faktor yang sangat menentukan keberadaan keanekaragaman hayati adalah habitat. Hutan merupakan habitat asli tempat hidup makhluk hidup. Penebangan serta perusakan hutan secara terus-menerus terganggunya ekosistem makhluk hidup dan pada akhirnya keanekaragaman hayati akan berkurang dan hilang.
2. Degradasi Habitat
Polusi merupakan perubahan lingkungan yang menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesehatan dan kehidupan makhluk hidup.
3. Spesies-Spesies Pendatang
Kehadiran spesies pendatang dapat mengalahkan atau mendominasi spesies asli. Pada abad ke-19 pembangunan Kanal Erie telah menyebabkan masuknya belut laut ke Danau Agung.
4. Eksploitaso Secara Berlebihan
Eksploitasi sumber daya alam dikatakan berlebihan jika jumlah sumber daya alam yang diambil lebih besar dibandingkan dengan kemamuan memperbarui diri sumber daya alam yang diambil.
D. usaha pelestarian keanekaragaman hayati di indonesia
Konservasi keanekaragaman hayati atau biodiversitas sudah menjadi kesepakatan internasional. Objek keanekaragaman hayati yang dilindungi terutama kekayaan jenis tumbuhan (flora) dan kekayaan jenis hewan (fauna) serta mikroorganisme misalnya bakteri dan jamur. Perlu diingat bahwa yang termasuk flora tidak hanya tumbuhan yang berbunga yang sehari-hari kita lihat tetapi juga lumut dan paku-pakuan. Demikian pula dengan fauna, tidak saja mencakup binatang mamalia tetapi juga ikan, burung, dan serangga.
Tempat perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia telah diresmikan oleh pemerintah. Lokasi perlindungan tersebut misalnya berupa Taman Nasional, Cagar Alam, Hutan Wisata, Taman Hutan Raya, Taman Laut, Wana Wisata, Hutan Lindung, dan Kebun Raya. Tempat-tempat tersebut memiliki makna yang berbeda-beda meskipun fungsinya sama yaitu untuk tujuan konservasi.
Dalam usaha menjaga kelestarian sumber daya hayati agar tidak punah adalah dengan cara menjaga keutuhan lingkungan tempat hidup makhluk hidup. Jika sebagian besar masyarakat Indonesia melakukan aktivitas eksploitasi sumber daya hayati secara terus-menerus tanpa diimbangi dengan usaha pelestarian maka dalam waktu yang relatif singkat sumber daya hayati akan punah.
1. Cagar Alam
Cagar alam adalah kawasan perlindungan alam yang memiliki tumbuhan, hewan, dan ekosistem yang khas sehingga perlu dilindungi.
Perkembangan dan pertumbuhan hewan dan tumbuhan, berlangsung secara alami. Sesuai dengan fungsinya cagar alam dapat dimanfaatkan untuk penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, dan wisata.
Terdapat dua jenis cagar alam yaitu cagar alam darat dan cagar alam laut. Di Indonesia cagar alam darat antara lain : Cagar Alam Morowali di Sulawesi tengah, Cagar Alam Nusa Kambangandi Jawa Tengah, Cagar Alam Gunung Papandayan di Jawa Barat, Cagar Alam Dolok Sipirok di Sumatera Utara, Cagar Alam Hutan Pinus Janthoi di NAD (Aceh). Sedangkan cagar alam laut antara lain : Cagar Alam Kepulauan Aru Tenggara di Maluku, Cagar Alam Pulau Anak Krakatau di Lampung, dan Cagar Alam Kepulauan Karimata di Kalimantan Barat.
2. Suaka Margasatwa
Suaka Margasatwa adalah kawasan suaka alam yang memiliki ciri khas berupa keanekaragaman dan keunikan jenis satwa, dan untuk kelangsungan hidup satwa dapat dilakuakn pembinaan terhadap habitatnya.
Di Indonesia suaka margasatwadarat antara lain : Suaka Margasatwa Rawa Singkil di NAD (Aceh), Suaka Margasatwa Padang Sugihan di Sumatera Selatan, Suaka Margasatwa Muara Angke di DKI Jakarta, Suaka Margasatwa Tambora Selatan di Nusa Tenggara Barat, Suaka Margasatwa Lamandau di Kalimantan Tengah, dan Suaka Margasatwa Buton di Sulawesi Tenggara. Sedangkan Suaka Margasatwa laut antara lain : Suaka Margasatwa Kepulauan Panjang di Papua, Suaka Margasatwa Pulau Kassa di Maluku, dan Suaka Margasatwa Foja di Papua.
3. Taman Nasional
Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli yang dikelola dengan sistem zonasi. Taman nasional dapat dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, dan wisata.
Terdapat dua jenis taman nasional, yaitu taman nasional darat dan taman nasional laut. Taman nasional darat antara lain ; Taman Nasional Leuser di Sumatera Utara, Taman Nasional Ujung Kulon di Banten, Taman Nasional Meru Betiri di Jawa Timur, dan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh di Riau. Sedangkan taman nasional laut antara lain ; Taman Nasional Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur, dan Taman Nasional Bunaken di Sulawesi Utara.

4. Hutan Wisata

Hutan wisata adalah kawasan hutan yang karena keadaan dan sifat wilayahnya perlu dibina dan dipertahankan sebagai hutan, yang dapat dimanfaatkan bagi kepentingan pendidikan, konservasi alam, dan rekreasi. Misalnya Hutan Wisata Pangandaran.

5. Taman Hutan Raya (Tahura)

Taman hutan raya adalah kawasan konservasi alam yang terutama dimanfaatkan untuk koleksi tumbuhan dan hewan, alami atau non-alami, jenis asli atau pendatang, yang berguna untuk perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, dan rekreasi. Tahura ini dapat disebut sebagai taman propinsi. Misalnya Pulau Sempu di Jawa Timur.

6. Taman Laut

Taman laut adalah wilayah lautan yang mempunyai ciri khas berupa keindahan alam atau keunikan alam yang ditunjuk sebagai kawasan konservasi alam, yang diperuntukkan guna meilindungi plasma nutfah lautan. Misalnya Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara.

7. Wana Wisata

Wana wisata adalah kawasan hutan yang disamping fungi utamanya sebagai hutan produksi, juga dimanfaatkan sebagai objek wisata hutan.

8. Hutan Lindung

Hutan lindung adalah kawasan hutan alam yang biasanya terletak di daerah pegunungan yang dikonservasikan untuk tujuan melindungi lahan agar tidak tererosi dan untuk mengatur tata air.

9. Kebun Raya

Kebun raya adalah kumpulan tumbuh-tumbuhan disuatu tempat, dan tumbuh-tumbuhan terseubut berasal dari berbagai daerah yang ditanam untuk tujuan konservasi, ilmu pengetahuan, dan rekreasi. Misalnya Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Purwodadi.
Selain tempat-tempat yang telah disebutkan di atas yang memang ditetapkan oleh pemerintah sebagai tempat konservasi, sebenarnya masyarakat pun dapat berpartisipasi dalam pelestarian keanekaragaman hayati. Bentuk pertisipasi masyarakat dalam pelestarian keanekaragaman hayati misalnya:
a). Memperkaya koleksi tanaman di pekarangan rumah
b). Tidak membunuh burung dan hewan-hewan lainnya
c). Tidak membuang limbah sembarangan, terutama limbah pabrik, limbah rumah tangga, dan limbah pestisida karena dapat membahayakan kehidupan flora dan fauna.

E. Aktifitas Manusia Dapat Menurunkan Keanekaragaman Hayati

Aktifitas manusia dapat menurunkan keanekaragaman hayati. Hingga saat ini, berbagai jenis tumbuhan dan hewan terancam punah dan beberapa di antaranya telah punah. Sebagai contoh, Australia selama 20 tahun telah kehilangan 41 jenis mamalia, 18 jenis burung, reptilia, ikan, dan katak, 200 jenis invertebrata, dan 209 jenis tumbuhan.
Sementara itu, Indonesia kehilangan beberapa satwa penting, misalnya harimau bali. Saat ini hewan tersebut tidak pernah ditemukan lagi keberadaannya, alias kemungkinan sudah punah. Hewan-hewan seperti badak bercula satu, jalak bali, dan trenggiling juga terancam punah. Belum lagi beberapa jenis serangga, hewan melata, ikan, dan hewan air, yang sudah tidak ditemukan lagi di lingkungan kita.
Kepunahan keanekaragaman hayati diduga disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:

1. Perusakan Habitat

Habitat didefinisikan sebagai daerah tempat tinggal organisme. Kekurangan habitat diyakini manjadi penyebab utama kepunahan organisme. Jika habitat rusak maka organisme tidak memiliki tempat yang cocok untuk hidupnya. Kerusakan habitat dapat diakibatkan karena ekosistem diubah fungsinya oleh manusia, misalnya hutan ditebang dijadikan lahan pertanian, pemukiman dan akhirnya tumbuh menjadi perkotaan. Kegiatan manusia tersebut mengakibatkan menurunnya keanekaragaman ekosistem, jenis, dan gen.
Selain akibat aktifitas manusia, kerusakan habitat juga dapat diakibatkan oleh bencana alam misalnya kebakaran, gunung meletus, dan banjir.
Perusakan terumbu karang di laut juga dapat menurunkan keanekaragaman ayati laut. Ikan-ikan serta biota laut yang hidup bersembunyi di dalam terumbu karangtidak dapat lagi hidup dengan terntram, beberapa di antaranya tidak dapat menetaskan telurnya karena terumbu karang yang rusak. Menurunnya populasi ikan akan merugikan nelayan dan mengakibatkan harga ikan meningkat. Kehidupan para nelayan menjadi terganggu.

2. Penggunaan Pestisida

Yang termasuk pestisida misalnya insektisida, herbisida, dan fungisida. Pestisida yang sebenarnya hanya untuk membunuh organisme penggangu (hama), pada kenyataannya menyebar ke lingkungan dan meracuni mikroba, jamur, hewan, dan tumbuhan lainnya.

3. Pencemaran

Bahan pencemar juga dapat membunuh mikroba, jamur, hewan dan tumbuhan penting. Bahan pencemar dapat berasal dari limbah pabrik dan limbah rumah tangga.

4. Perubahan Tipe Tumbuhan

Tumbuhan merupakan produser di dalam ekosistem. Perubahan tipe tumbuhan misalnya perubahan dari hutan hujan tropik menjadi hutan produksi dapat mengakibatkan hilangnya tumbuh-tumbuhan liar penting. Hilangnya jenis-jenis tumbuhan tertentu dapat menyebabkan hilangnya hewan-hewan yang hidup bergantung pada tumbuhan tersebut.

5. Masuknya Jenis Tumbuhan dan Hewan Liar

Tumbuhan atau hewan liar yang masuk ke ekosistem dapat berkompetisi bahkan membunuh tumbuhan dan hewan asli.

6. Penebangan

Penebangan hutan tidak hanya menghilangkan pohon yang sengaja ditebang, tetapi juga merusak pohon-pohon lain yang ada di sekelilingnya. Kerusakan berbagai tumbuh-tumbuhan karena penebangan akan mengakibatkan hilangnya hewan. Jadi, penebangan akan menurunkan plasma nutfah.

7. Seleksi

Secara tidak sengaja perilaku kita mempercepat kepunahan oraganisme. Sebagai contoh, kita sering hanya menanam tanaman yang kita anggap unggul misalnya mangga gadung, mangga manalagi, jambu bangkok. Sebaliknya kita menghilangkan tanaman yang kita anggap kurang unggul, misalnya mangga golek, nangka celeng.
Menurunnya keanekaragaman hayati menimbulkan masalah lingkungan yang akhirnya merugikan manusia. Misalnya, penebangan hutan mengakibatkan banjir. Hewan-hewan yang hidup di dalam hutan misalnya babi hutan, gajah, kera, menyerang lahan pertanian penduduk karena habitat mereka semakin sempit, dan makanan mereka semakin berkurang.
Menurunnya populasi serangga pemangsa (predator) karena disemprot dengan insektisida mengakibatkan terjadinya ledakan populasi serangga yang dimangsa. Jika serangga ini memakan tanaman pertanian, maka ledakan serangga tersebut sangat merugikan petani.
F. Aktifitas Manusia yang Meningkatkan Keanekaragaman Hayati
Tidak semua aktifitas manusia berakibat menurunkan keanekaragaman hayati. Ada juga aktivitas yang justru meningkatkan keanekaragaman hayati.

2.6.2.1 Penghijauan

Kegiatan penghijauan meningkatkan keanekaragaman hayati. Kegiatan penghijauan tidak hanya menanam tetapi yang lebih penting adalah merawat tanaman setelah ditanam.

2.6.2.2 Pembuatan Taman Kota

Pembuatan taman-taman kota selain meningkatkan kandungan oksigen, menurunkan suhu lingkungan, mamberi keindahan, juga meningkatkan keanekaragaman hayati.

2.6.2.3 Pemuliaan

Pemuliaan adalah usaha membuat varietas unggul dengan cara melakukan perkawinan silang. Usaha pemuliaan akan menghasilkan varian baru. Oleh sebab itu pemuliaan hewan dan tumbuhan dapat berfungsi meningkatkan keanekaragaman gen.

G. Aktifitas Manusia untuk Melestarikan Keanekaragaman Hayati

Hewan atau tumbuhan langka dan rawan punah dapat dilestarikan dengan pembiakan secara in situ dan ex situ.
a). Pembiakan secara in situ adalah pembiakan di dalam habitat aslinya. Misalnya mendirikan Cagar Alam Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo.
b). Pembiakan secara ex situ adalah pembiakan di luar habitat aslinya, namun suasana lingkungan dibuat mirip dengan aslinya. Misal penangkaran hewan di kebun binatang (harimau, gajah, burung jalak bali).
Di Universitas Negeri Semarang (Unnes) sendiri juga banyak memiliki keanekaragaman hayati. sesungguhnya lebih layak untuk menjadi contoh dan referensi kawasan konservasi di Kota Semarang. Secara geografis, Unnes terletak di daerah pegunungan dengan topografi yang beragam dan memiliki tingkat keanekaragaman hayati (biodiversity) baik flora maupun fauna yang relatif tinggi. Untuk meneguhkan diri menjadi sebuah universitas konservasi, telah dikembangkan Taman Keanekaragaman Hayati yang meliputi program penghijauan, pemilahan sampah organik dan anorganik, dan pengolahan sampah organik menjadi kompos. Inventarisasi awal fauna khususnya burung dan kupu-kupu di kampus pusat Unnes pada tahun 2005, 2008, dan awal 2009, berhasil mengidentifikasi sebanyak 58 jenis burung. Dari jumlah tersebut, 14 diantaranya dilindungi peraturan dan perundangan Indonesia; 2 jenis termasuk dalam kategori spesies yang dilindungi CITES (Conservation on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) Appendix II, I dan termasuk kelompok spesies yang dilindungi IUCN (International Union for Conservation of Nature) dengan kategori Endangered Species: EN, dan lima jenis termasuk kategori spesies endemik Jawa. Selain itu ditemukan sebanyak 33 jenis kupu-kupu dan salah satunya merupakan jenis yang dilindungi menurut sistem perundangan Indonesia.
Berikut beberapa gambar jenis kupu-kupu dan burung yang dilindungi dan juga tumbuhan seperti bunga dan pohon yang berada di lingkungan unnes.

Kerai payung (Fillicium decipiens) yang berada Kebun Wisata Pendidikan UNNES, FIS, FT.

Seekor kupu kupu jenis limenitis lorquini hinggap di bunga Lantana tegak yang baru ditanam petugas kebun Universitas Negeri Semarang di taman dekat pintu gerbang kampus unnes, selasa (13/4). Unnes banyak menggalakkan kegiatan peduli lingkungan seperti menanam seribu pohon dengan semboyan One Man One Tree untuk merealisasikan Unnes sebagai Conservation University.
Nectarina jugularis atau yang biasa dikenal sebagai burung Madu Sriganti. Yang sedang mencari nektar dan meloncat-loncat diantara dahan-dahan Angsana (Pterocarpus indicus)
Lapangan di depan gedung rektorat di kelilingi oleh pohon-pohon yang melingkari lapangan tersebut mejadikan lapangan menjadi terlihat asri.
Embung Unnes yang terletak di selatan masjid Ulul Albab ternyata sering digunakan mahasiswa dan warga Sekaran sebagai tempat wisata. Selain memancing mereka menjadikan embung tersebut sebagai sarana interaksi sosial. Ada pengunjung yang datang dengan pasangannya, keluarga atau teman.

Bab 3. Penutup

1. Kesimpulan

Makhluk hidup di dunia ini sangat beragam. Keanekaragaman makhluk hidup tersebut disebut dengan sebutan keanekaragaman hayati atau biodiversitas. Setiap sistem lingkungan memiliki keanekaragaman hayati yang berbeda. Keanekaragaman hayati ditunjukkan oleh adanya berbagai variasi bentuk, ukuran, warna, dan sifat-sifat dari makhluk hidup lainnya.
Indonesia terletak di daerah tropik yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik dan kutub.
Keanekaragaman hayati disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Terdapat interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan dalam mempengaruhi sifat makhluk hidup.
Kegiatan manusia dapat menurunkan keanekaragaman hayati, baik keanekaragaman gen, jenis maupun keanekaragaman lingkungan. Namun di samping itu, kegiatan manusia juga dapat meningkatkan keanekaragaman hayati misalnya penghijauan, pembuatan taman kota, dan pemuliaan.
Pelestarian keanekaragaman hayati dapat dilakukan secara in situ dan ex situ.
Keanekaragaman hayati dapat memberikan manfaat, baik secara ekonomi, ilmu pengetahuan, sosial dan budaya, Sumber Pangan, Perumahan, dan Kesehatan, Sumber Plasma Nutfah, ekologi, dan keindahan.
2. Saran
Agar keanekaragaman hayati tidak punah maka diperlukan upaya-upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati tersebut dengan membuat tempat perlindungan misalnya berupa Taman Nasional, Cagar Alam, Hutan Wisata, Taman Hutan Raya, Taman Laut, Wana Wisata, Hutan Lindung, dan Kebun Raya.
Dengan upaya tersebut diharapkan keanekaragaman hayati akan tetap tejaga dan lestari dan bemanfaat bagi kehidupan manusia.
Daftar pustaka

fauzzzblog (2009). Keanekaragaman Hayati (Biodiversitas). From:http://fauzzzblog.wordpress.com/2009/12/06/keanekaragaman-hayati-biodiversitas/#comment-418

Pratiwi, D.A., Maryati, Sri, Srikini, Suharno, & S. Bambang (1996).buku Penuntun Biologi SMU Kelas 1 Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga

PEMAHAMAN MANUSIA DARI PENDEKATAN DIAGNOSTIKA

Kamis, 25 Maret 2010

Oleh : Dr. Ahmad Gimmy Prathama S.,M.Si dan Tim

1. Psikologi
Psikologi merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani, yakni Psyche dan Logos. Psyche berarti jiwa, sedangkan logos artinya ilmu. Arti harfiah dari psikologi adalah ilmu mengenai jiwa. Namun sebenarnya psikologi tidak mempelajari jiwa atau mental secara langsung, karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa atau mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya. Berdasarkan batasan inilah psikologi dapat didefinisikan sebagai berikut :
“Psikologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai tingkah laku dan proses-proses mental dalam diri manusia.”
Psikologi sebagai ilmu memiliki beberapa fungsi yakni :
1. Mendeskripsikan, artinya psikologi berfungsi untuk menggambarkan tingkah laku manusia di lingkungannya. Psikologi harus mampu memahami dan menjelaskan dasar tingkah laku tersebut terjadi.
2. Memprediksi, artinya psikologi berfungsi untuk memperkirakan tingkah laku yang akan muncul berdasarkan pengalaman.
3. Mengintervensi, artinya psikologi berfungsi sebagai ilmu yang mampu memanipulasi lingkungan dalam rangka mengubah tingkah laku manusia sehingga mencapai well-being.
Selain itu dalam mempelajari, memahami dan menerapkan ilmu psikologi, diperlukan suatu keterampilan seseorang untuk mengenali, mempersepsi dan merasakan perasaan orang lain. Hal ini dikenal dengan istilah empati. Empati sangat diperlukan dalam ilmu psikologi karena membantu memahami orang lain. Karena pikiran, kepercayaan dan keinginan seseorang berhubungan dengan perasaannya. Seseorang yang berempati akan mampu mengetahui pikiran dan mood orang lain.

1. Hakikat Manusia
Manusia pada dasarnya tidak mampu berdiri sendiri. Manusia adalah makhluk sosial yang berperilaku karena dipengaruhi oleh stimulus dari lingkungan. Namun manusia juga dapat berperilaku sebagai agent pengubah lingkungan. Lingkungan butuh manusia, dan manusia butuh lingkungan. Artinya, hubungan manusia dan lingkungan adalah hubungan timbal balik.
Manusia dipahami melalui tingkah lakunya, baik tingkah laku yang terlihat dan yang tidak terlihat. Tingkah laku yang dapat diamati (observable) adalah seperti seseorang tersenyum, tertawa, atau menangis. Sedang tingkah laku yang tidak terlihat adalah proses-proses mental seperti persepsi, atensi, dan sebagainya.
Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh. Kedua hal ini saling berhubungan secara interaksional yang mempengaruhi untuk bertingkah laku. Manusia dibedakan dari hewan karena manusia memiliki akal untuk berfikir. Dengan memiliki akal, manusia dapat belajar dari lingkungan. Pengalaman belajar di lingkungan inilah yang membuat manusia menyadari keberadaan dirinya, namun menyadari juga keberadaan yang lain, yaitu keberadaan di luar dirinya.
Manusia selain dapat menyesuaikan dirinya dengan dunia, ia juga dapat mengubah dunia untuk kepentingannya. Artinya manusia dapat menjadi objek dari lingkungan maupun menjadi agent perubahan.

1. Pendekatan Psikologi
Dalam memahami pendekatan psikologi dikaitkan dengan studi dengan kepribadian maka perlu kita ketahui bahwa persamaan dari setiap pendekatan psikologi ketika membahas kepribadian manusia adalah seluruh pendekatan melihat perilaku manusia berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam rangka mencapai well-being. Pendekatan besar dalam psikologi dapat dikelompokkan dalam 3 pendekatan yakni, pendekatan psikoanalisa, behaviorisme dan humanistik. Beberapa perbedaan asumsi dari ketiga pendekatan sebagai berikut :
1. Pendekatan psikoanalisa
Psikoanalisa memandang bahwa manusia bertingkah laku didasari oleh alam bawah sadar (unconsciousness) seperti keinginan, impuls dan dorongan. Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.
2. Pendekatan behaviorisme
Pendekatan behaviorisme memandang manusia berperilaku didasarkan pada interaksi manusia faktor lingkungan, dalam hal ini manusia merespon stimulus dari lingkungan. Secara sederhana digambarkan dalam S-R (Stimulus-Respon). Behaviorisme juga menekankan faktor belajar dan manipulasi lingkungan (reward dan punishment).
3. Pendekatan humanistik
Pendekatan humanistik muncul sebagai reaksi dari aliran psikoanalisa dan behavioristik. Aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis. Pendekatan humanistik ini berakal dari pendekatan eksistensialisme.
Humanistik memandang bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki potensi luar biasa dalam dirinya dan perilaku manusia dapat dikembangkan sehingga manusia mengoptimalisasi potensi yang ia miliki, dalam istilah humanistik dikatakan sebagai aktualisasi diri. Menurut humanistik :
• Manusia tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen, artinya manusia dipandang sebagai kesatuan.
• Setiap manusia merupakan pribadi yang unik.
• Kesadaran manusia menyertakan kesadaran akan dirinya dalam konteks orang lain.
• Manusia mempunyai pilihan-pilihan dan tanggung jawab.
• Manusia bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan kreatifitas.
II
KEPRIBADIAN
Oleh : Dr. Ahmad Gimmy Prathama S.,M.Si dan Tim

1. The Big 5 trait factors and illustrative scales:
• Neurotism (N)
• Ekstraversion (E)
• Opennes (O) Terdapat di 16 PF
• Agreableness (A)
• Contenciousness (C)
N tinggi : cemas, mudah mengeluh (secara fisik)
N rendah : tenang
• Digunakan untuk membuat arah konsep kepribadian karena penggunaannya sendiri belum bisa di Indonesia.

1. Tema-tema dalam teori kepribadian (GC Boeree)
1. Conciousness & Unconsiousness
2. Stages
3. Temperament
4. Learning
5. Emotions
6. Motivation
7. Neurosis
8. Coping Strategies
9. Therapy
10. Balance

11. Concious & Unconciousness
• Biological : id, collective conscious, temperament, stages, throwness, complexes.
• Unconcious: cara bicara, collective unconscious: ada di masyarakat seperti tabu, pamali
• Complexes: Kecenderungan untuk tidak berbagi dan orang lain termasuk untuk punya pasangan.
• Social Unconciousness: Lingkungan social tertentu yang menjadi dunia kita (hanya itu, tidak ada dunia yang lain lagi). Jadi terjatuh pada wadah/social lingkungan tertentu (fallness), condition of worth.
• Personal Unconciousness: habits, defense mechanism.
• Concious, awareness, free will, self determination: subjektif.

1. Stages
• Fetus, child, adult Pencapaian setiap tahap
• Transitional stages infancy, adolescence, senescene (masa terahir dimana orang harus beradaptasi terhadap deteriorasi)
• Biological development, ego development, social development.
• Temperament, personality character.
1. Temperament
• Emotional stability
• Ekstraverion-introversion  Big 5 Trait Factor
• Consenciousness (ketekunan)  Big 5 Trait Factor
• Agreableness (ikut aja)  Big 5 Trait Factor
• Openness Big 5 Trait Factor
• Psychostism (jaga jarak/terpisah)
• Activity
• impulsivity
1. Learning
• Environmental, social, verbal (makin dewasa jumlah kata makin bertambah)
• Conditioning; latent learning (belajar yang tidak disadari seperti menyetir) differentiate
• Reward-punishment
• Vicarious learning, imitation, modeling
• Words (bahasa yang dipelajari)  bahasa kekerasan, penghinaan.
1. Emotions
• Pain & pleasure
• Anxiety
• Fear
• Guilty
• Shame, regret
• Sadness, grief
• Anger, aggression, hostility
• Emotional tone / mood
1. Motivation
• Biological (Instinct)
• Social – positive regard
• Personal motivation – personal style
• Competence motivation – striving for perception
• Altruistic motivation – social
• Actualization
1. Neurosis
• Incongruence: Pengalaman masa kecil
• Low self esteem
• Poor self esteem
• Inferiority complex
• Denial (paling primitive), repression, distortion, rationalization
• Alienation (lebih parah), inauthentic (humanistic: meniadakan dirinya sehingga tidak menjadi authentic): menarik diri
• Themes (kita bisa menentukan tema seseorang setelah mendapat data yang komprehensif: dorongan seperti apa, motivasi seperti apa), neurotic needs (kompulsif, keinginan/harapan yang tidak pernah tercapai), maladaptive habits.
1. Coping Strategies
• Dependent style and aggressive style, emotional focus and problem.
• Oral passive, getting or learning, compliant and receptive
• Oral aggressive, rulling or dominant, and explanative.
• Perfectionis style
• Schizoid style: menjauh
• Infantile style: harus selalu ada
1. Therapy
• Self awareness, makin unconscious-conscious
• Conscious higher motivation
• Caring dialogue, support, autonomy
• drugs
1. Balance
• Anima-animus
• Ego-unconscious
• Androgenus
• Life-death
• Individuality – community
• Egoism – altruism
• Will – love
• Autonomy – homonymy (keakuan dan kekitaan)
KESIMPULAN


Learning
(Family) media, etc
(c) (b) Peers (c)



(c) (a) (c)
Temperament Instinct health, etc
Psychology


Keterangan:
a & b : kompleksitas nature & nurture
c : accidental influence
d : pilihan/free will/choices
1. Sebaiknya dalam laporan psikologi tercantum:
2. Cognitive system : perceive, stores, process, and retrieve information
3. Affective system : can modify perception and thought before and after they are proceed cognitively
4. Regulatory system : directs and managed input and output functioning
5. Behavioral system : overt action of organism (output of individuals)
III
FUNGSI – FUNGSI PSIKOLOGI
Oleh : Dr. Willis Srisayekti dan Tim

Fungsi-fungsi Psikologis terdiri dari: Sensasi, Atensi, Persepsi, Memori, Belajar (thinking) & Kognisi.
1. Sensasi terjadi akibat proses yang berkaitan dengan organ seperti telinga dan mata, dan mungkin ditimbulkan oleh stimulus sederhana (cahaya merah, misalnya). Indra tersebut mencakup penglihatan ( visual), pendengaran (auditorius), penciuman (olfaktorius), pengecapan (gustasi), dan indra kulit (termasuk tekanan, temperatur dan nyeri), serta indra tubuh (termasuk orientasi dan pergerakan tubuh).

2. Atensi adalah proses seleksi dari pikiran untuk memusatkan perhatian pada satu objek dan mengabaikan yang lain. Kesadaran juga mencakup persepsi dan pemikiran yang secara samar-samar disadari oleh individu hingga akhirnya perhatian terpusat. Fungsi dari atensi adalah untuk mengatasi kemampuan mental kita yang terbatas. Dalam merespon stimuli dari luar (sensasi) maupun dari dalam (berpikir & memori) sehingga kita dapat memfokuskan pikiran pada hal-hal yang menarik bagi diri.




3. Persepsi adalah bagaimana kita mengintegrasikan sensasi kedalam percepts objek, dan bagaimana kita selanjutnya menggunakan persepsi itu untuk mengenali dunia (persepsi adalah hasil proses perseptual). Dua fungsi utama proses presepsi:
1. Lokalisasi (menentukan dimana letak suatu objek)
2. Pengenalan (menentukan apa objek tersebut)
Kedua fungsi utama ini dilaksanakan di dua tempat yang berbeda.

1. Memori adalah suatu proses memasukkan pesan kedalam ingatan, menyimpan dan mengingat kembali.


Ada dua jenis memori:
1. Memori jangka pendek  Berfungsi sebagai stasiun perhentian bagi memori permanen, dimana informasi mungkin tinggal didalam memori jangka pendek sementara disandikan ke memori jangka panjang. Informasi dalam memori jangka pendek cenderung disandikan ke dalam sandi akustik, meskipun dapat juga disandikan kedalam sandi visual.
2. Memori jangka panjang  informasi dalam memori jangka panjang biasanya disandikan menurut maknanya. Semakin luas seseorang menguraikan makna, semakin baik memorinya.

2. Belajar merupakan dasar untukmemahami perilaku. Belajar berkaitan dengan masalah fundamental tentang perkembangan emosi, motivasi, perilaku sosial dan kepribadian. Proses belajar didefinisikan sebagai perubahan yang relatif permanen pada perilaku yang terjadi akibat latihan.

3. Kognitif adalah proses bagaimana seseorang berpikir. Psikologi Kognitif adalah ilmu yang mempelajari bagaimana persepsi seseorang baleajar, mengingat, dan berpikir tentang informasi. Kognitif = kognitif psikologis yang menitikberatkan pada proses berfikir yang meliputi proses sensasi, atensi, persepsi dan memori, belajar & problem solving.
IV
PENDEKATAN PSIKOLOGI SOSIAL
Oleh : Prof.Dr.Tb.Zulkrizka Iskandar, M.Sc dan Tim

• Ialah suatu ilmu yang mempelajari pemahaman mengenai bagaimana manusia berfikir mengenai sesuatu (kogniritf), merasa tentang sesuatu (afektif), berhubungan dan salaing mempengaruhi satu sama lain.
• Pendekatan ini membahas mengenai individu, interaksi antar individu, interaksi individu dan kelompok, serta kelompok dan kelompok.
• Hubungan psikologi sosial dengan ilmu lainnya:
Psikologi sosial adalah bagian dari ilmu sosiologi dan antropologi
• Proses perilaku:






• Perluasan psikologi sosial:
o Daya situasi: Pengaruh budaya dan konteks. Situasi yang tidak baik kadang mempengaruhi manusia unruk berbuat tidak baik. Contoh: konflik.
o Daya dari seseorang : kepemimpinan, perilaku politik, perilaku ekonomi, dsb.
o Pentingnya kognisi : manusia bereaksi berbeda-beda karena berpikir berbeda-beda.
o Aplikasi prinsip psikologi social: perilaku kesehatan, olahraga, militer, lingkungan organisasi, komunitas, criminal, pendidikan, perbedaan etnis dan identitas, politik, ekonomi.
• Tingkatan analisa:
o Individu
o Kelompok
Bagaimana atmosfer kelompok terjadi akibat tingkah laku individu
o Institusi
Bagaimana budaya organisasinya, mengapa perilaku tentara dan sipil berbeda-beda.
• Tingkatan penelitian
1. Eksploratrif
Fenomena dimana belum ada / belum jelas variabelnya, sehingga pada tingkatan penelitian ini belum ada teori.
2. Deskriptif
Mendeskripsikan pengaruh antara 1 variabel dengan variable lainnya, sehingga pada tingkatan penelitian ini sudah ada teori.
3. Theory testing
Menguji teori untuk suatu fenomena tertentu.



• Monitoring perubahan :
1. Longitudinal design
2. Cross sectional design
3. Sequential design

• Perilaku data : Kuantitatif dan kualitatif

• Tipe data yang diperoleh melalui assessment:
o Interpersonal
motivasi, emosi, kecerdasan
o Interindividual
Jaringan pertemanan, pola komunikasi, interaksi.
o Sosietal
Hierarki kelembagaan, sistem ideologi.

• Tingkatan pengukuran
1. Kategorikal/nominal (laki-laki/perempuan)
2. Ordinal (tingkatan)
3. Interval (rentang)
4. Rasio

• Teknik perolehan data
o Observasi
o Interview
o Angket/kuesioner
o Psikophysiologis : Aktivitas otot, jantung, tekanan darah, gerakan mata
o Tes psikometri : Projective test, objective test, self report, dan sebagainya.
o Focus group
o Ethnology

• Pengertian intervensi social
1. Social intervension emphasize the activity, purposeful, and planned participation of both clients and social psychological in all phases of the social intervention process.
2. Activity which are initiated in rersponse to specific problem conditions or to prevent problems.
3. Activities are based on a strategy especially designed to achieve a specified goal to cope with, eliminate, or prevent the particular problems.
• Pola Pikir penelitian dalam intervensi













• Objek intervensi dalam psikologi social
o Individu
Motivation, learning, personality, emotion, perception, Attitude change, communication, behavioral changes
o Group
Leadership, decision making, communication, group process, behavioral change, moral, adaptability, productivity, personal adjustment.
o Organisation
Leadership, job satisfaction, decision making, work design, work stress, behavioral changes, attitude changes, communication group process, group decision making, intergroup, organization process, morale, cohesiveness, adaptability.
o Masyarakat
Pembinaan territorial, interaksi komunikasi, community development.

• Langkah dalam interaksi social









• Intervention
o Training
o Organization Development
o Participation research action
o Propaganda dan persuasi
o Psy-war (mencari kelemahan untuk menjatuhkan orang)
o Counceling
o Advocacy
o Group dynamic
o Negotiator
V
PENDEKATAN PSIKOLOGI KLINIS ANAK / PERKEMBANGAN
Oleh : Prof.Dr.Juke Roosjati Siregar,M.Pd dan Tim
• Penelitian dalam psikologi perkembangan menggunakan metoda cross sectional/longitudinal.
• Penelitian dasar hanya untuk perkembangan ilmu bukan pemecahan masalah metoda kuasi/kualitatif
• Tiga dasar perkembangan:
o Biologis
o Kognitif 3 dasar untuk melihat perubahan tingkah laku manusia
o Sosioemosional

Perbedaan perilaku orang ke orang lain karena adanya aksi dan reaksi didalam setiap individu.
Dalam teori belajar, reaktif lebih dilihat dibanding proaktif.
• Life Span Development ( childhood adolasence  Adult)
o Perubahan dapat terjadi secara interindividual
Nilai, moral, kognisi, (fungsi-fungsi psikologi), walaupun perubahan ini ada pengaruh dari lingkungan.
o Perkembangan itu proses, harus dapat dijelaskan dan dioptimalisasi
• Teori berpikir dan perkembangan membahas:
1. 3 macam hukum perkembangan Vygotsky
1. Psikis : Perkembangan diatur pada waktunya. 1 tahun hidup bayi berbeda dengan 1 tahun hidup remaja.
2. Continous : perubahan yang kuantitatif
3. Discontinous : perubahan yang kualitatif
Pada masa bayi perkembangan sangat cepat. Pada remaja perkembangan sudah satabil, hanya tinggal emosi, hormone, dan konsep diri. Pada masa tua perubahan menjadi cepat: dari yang mampu menjadi tidak mampu.
2. Hukum dari ketidakaturan pada perkembangan anak:
1. Fisik : motorik kasar dan halus
2. Bahasa
3. Emosi
4. Sosial
5. Kognitif
Dikatakan ketidakaturan karena pada periode anak pencapaian ini berbeda-beda.
1. Ecological Psychologist: Brener
Perkembangan dilihat dari system yang mengelilinginya.
• Sistem mikro : rumah, kelas  langsung berhadapan
• Sistem meso : intervensi yang terjadi antara system mikro
Contoh: rapat orangtua murid dengan guru tidak melibatkan anak secara langsung.
• Sistem exo : intervensi dimana anak tidak dilibatkan secara langsung tetapi berpengaruh terhadap anak
Contoh: pekerjaan orangtua
• Sistem makro : pengaruh kebudayaan
Contoh : ideology.
VI
Memahami kepribadian manusia
melalui observasi & interview individu& kelompok
Oleh : Dr. Willis Srisayekti dan Tim
1. OBSERVASI
2. Definisi observasi : Kegiatan memperhatikan seseorang atau sesuatu, mengikutinya dengan mata, yang dilakukan secara sadar dengan seksama dalam kurun waktu tertentu (Wahrig, 1978, Drosdowski, 1989)
3. Jenis observasi :
1. Observasi sebagai proses untuk mendapatkan informasi
2. Observasi berdasarkan keterlibatan pelaku observasi dalam proses mendapatkan informasi
3. Observasi berdasarkan objek yang diobservasi.
4. Pelaksanaan observasi :
1. Penentuan objek observasi
2. Kegiatan memperoleh data observasi
3. Pencatatan data observasi
4. Pemaknaan dan Pengambilan kesimpulan data Observasi
5. Perilaku non verbal :
1. Aktivitas vokal atau cara bicara seperti intonasi, tempo, volume, warna suara, modulasi
2. Penampilan fisik seperti pemeliharaan kebersihan dan kesehatan tubuh, serta cara berpakaian
3. Rabaan (touch)
4. Jarak interpersonal
5. Manipulasi diri dan manipulasi objek
6. Perubahan tingkah laku dalam ruang dan waktu
7. Mimik, gestikulasi,dan sikap tubuh

6. WAWANCARA
1. Definisi wawancara : Suatu proses relasi komunikasi yang sifatnya diadik yang meliputi tanya jawab dengan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya untuk saling mengubah tingkah laku
2. Jenis wawancara :
1. Interviu sikap bebas
2. Percakapan konseling
3. Anamnesa / semi directive
4. Interviu terstruktur /directive

3. Tekhnik wawancara :
1. Probing / Clarifying
2. Paraphrasing /Reflecting/ Orrdering
3. Summarizing
VII
TES INTELEGENSI
Oleh : Dr. Hj. Hendriati Agustiani, M.Si dan Tim
1. David Perkins
David Perkins berpendapat bahwa intelegensi memiliki tiga komponen atau dimensi, yaitu;
1. Neural Intelligence, yang mengacu kepada efisisensi dan ketelitian dari sistem neurologi seseorang.
2. Experiential Intelligence, yang mengacu kepada akumulasi pengetahuan dan pengalaman seseorang di area-area yang berbeda. Hal ini dapat dianggap sebagai akumulasi dari keahlian-keahlian seseorang.
3. Reflective Intelligence, mengacu kepada strategi broad-based seseorang untuk menghadapi masalah, untuk belajar, dan untuk menghadapi tugas-tugas intelektual yang menantang. Hal ini meliputi sikap-sikap yang mendukung untuk bertahan, sistemasi, dan imajinasi. Hal ini juga meliputi self-monitoring dan self-management.
1. Howard Gardner
Howard Gardner mengidentifikasikan 8 komponen intelegensi yaitu :
1. Intelligence
2. Bodily- kinesthethic
3. Interpersonal
4. Intrapersonal
5. Linguistic
6. Logical – mathematical
7. Musical
8. Naturalistic
9. Spatial
1. Sternberg
Sternberg menyatakan bahwa intelegensi terdiri dari tiga kemampuan yang terpisah walaupun saling berhubungan, yaitu:
1. Analytical Intelligence
2. Creative Intelligence
3. Practical Intelligence


Pengertian intelegensi oleh beberapa tokoh:
1. Terman :
Ability to carry on “abstract thinking”
1. Clararde dan Stern
2. K. Buhler
3. Binet
A collection of faculties: judgment, reasoning, memory, the power of abstraction, practical sense, initiative, the ability to adapt oneself to circumstances
4. Wechsler
The aggregate or global capacity of the individual to act purposefully, to think rationally and to deal effectively with his environment
5. Piaget
An extension of biological adaptation, consisting of the processes of assimilation and of accommodation
6. Gardner
A biopsychological potential to process information that can be activated in a cultural setting to solve problems or create products that are of value in a culture
7. Stenberg
Successful intelligence is defined as that set of mental abilities used to achieve one’s goals in life, given a social-cultural context, through adaptation to, selection of, and shaping of environments
VIII
TES WB
Oleh : Dr. Hj. Hendriati Agustiani, M.Si
WECHSLER : Terambil dari nama pengarang dan pencipta alat ukurnya,
yakni : DAVID WECHSLER (seorang Psikolog Klinis)
BELLEVUE : terambil dari nama Rumah Sakit Jiwa di kota New York – USA (The BELLEVUE Psychiatric Hospital) tempat di mana Wechsler bekerja
TUJUAN WECHSLER :
• Meng-konstruksi suatu Tes Inteligensi umum, khususnya untuk orang dewasa (waktu itu, masih sangat langka)
• Baru di kemudian hari, di-konstruksi-kan pula alat ukur untuk Anak, seperti WISC & WPPSI

SECARA KRONOLOGIS :
No. NAMA ALAT TES : TAHUN TERBIT :
1. WB – I ( WBIS = WECHSLER-BELLEVUE
INTELLIGENCE SCALE ) 1939
2. WB – II ( = Bentuk Tes paralel dari Tes WB – I ) 1946
3. WISC ( WECHSLER INTELLIGENCE SCALE for CHILDREN )
[ Mirip dengan WB – II, namun disesuaikan untuk Anak ] 1949
4. WAIS ( WECHSLER ADULT INTELLIGENCE SCALE )
[ Bentuk revisi dari WB – I ] 1955
5. WISC – R ( Merupakan revisi dari WISC ( 1949 ) 1974

DEFINISI WECHSLER tentang INTELIGENSI :
Intelligence, is the aggregate or global capacity of the individual, to act purposefully, to think rationally, and to deal effectively with his environment.
Yang berarti:
Inteligensi merupakan suatu aggregat atau kapasitas global dari individu, untuk bertindak secara terarah, untuk berpikir secara rasional, dan untuk berhubungan secara efektif dengan lingkungannya.

Jadi, apabila Wechsler percaya bahwa intelligensi itu terutama men-turut serta-kan kemampuan dalam mengamati relasi-relasi logis (logical relations) dan penggunaan simbol-simbol (to use symbols), oleh karena itu ia memanfaat-kan tes-tes yang akan mengukur : –► kemampuan verbal, arithmatika, dan secara umum daya nalar abstrak (abstract reasoning)
Mengingat tes Wechsler, mengukur 3 (tiga) hal sekaligus, yakni :
1). kemampuan inteligensi (taraf, aspek-aspek intelektual (bakat),
2). aspek kepribadian dan
3). kondisi psikopathologi,
Bentuk-bentuk Tes yang akhirnya menjadi pilihan, adalah:
• An Information Test
• A General Comprehension Test
• A Combined Memory Span Test for Digits (Forwards and Backwards)
• A Similarities Test
• An Arithmetical Reasoning Test
• A Picture Arrangement Test
• A Picture Completion Test
• A Block Design Test
• An Object Assembly Tes
• A Digit Symbol Test

Alternate—A Vocabulary Test
TUJUAN DARI TES WECHSLER :
• Menggambarkan Taraf Kecerdasan: Aktual dan Potensial
• Profile aspek Kecerdasan
• Efisiensi Kecerdasan yang dipengaruhi oleh Kepribadian dan Psikopathologi

MATERI TES, TERDIRI DARI BENTUK :
- VERBAL , yang terdiri dari (sub-tests)
:
• INFORMATION
• COMPREHENSION
• DIGIT SPAN *
• ARITHMETIC *
• SIMILARITIES
• ( VOCABULARY )

Mengukur kemampuan :
• Teoretis-verbal
• ” know – ing “

- PERFORMANCE , yang terdiri dari ( sub-tests ) :
• PICTURE ARRANGEMENT
• PICTURE COMPLETION
• BLOCK DESIGN
• OBJECT ASSEMBLY
• DIGIT SYMBOL
Mengukur kemampuan :
• Praktis – konkrit
• ” do – ing “

PENJELASAN PERIHAL SETIAP SUB-TEST
1. INFORMATION
Mengukur :
• Luasnya pengetahuan umum seseorang
• Wawasan berpikirnya

2. COMPREHENSION
Mengukur :
• Cemmon sence (akal sehat) & reasoning (daya nalar)
• Ketepatan evaluasi Subjek terhadap pengalaman-pengalamannya

3. DIGIT SPAN
Mengukur :
• Immediate auditory recall
• Attention & freedom from distractability
• Skor tinggi : Penyesuaian yang cepat terhadap angka / fleksibel dalam beradaptasi
• Perbedaan antara forward & backward :
. Auditory memory lemah
. Anxiety
. Simple inattention
. Low mental capacity


4. ARITHMETIC
Mengukur :
• Pemikiran secara comprehensive terhadap konsep angka secara abstrak ( ” Cognitive development ” )
• Problem solving “set” yang
diikuti operasional angka (tambah, kurang, kali, bagi, dsb.)
• Konsentrasi  Mental set
• Daya nalar

5. SIMILARITIES
Mengukur :
• Kemampuan dalam melihat persamaan & perbedaan objek
• Memory, comprehension, associative
• Conceptual judgement

6. VOCABULARY
Merupakan :
• Pengukuran yang paling baik untuk Inteligensi umum (G-factor)
• Me-refleksi-kan penguasaan kata-kata melalui deskripsi individu yang juga mempergunakan kata-kata
• Dipengaruhi :
. Gagasan / Ide
. Assosiasi
. Perasaan
7. PICTURE ARRANGEMENT
Mengukur :
• Visual perception
• Pendekatan sintesis melalui planning
• Kemampuan melihat sebab-akibat yang ada
• Memahami dan menyelesaikan situasi sosial

8. PICTURE COMPLETION
Mengukur :
• The individual’s basic perceptual and conceptual abilities in so far as these are involved in the visual recognition and identification of familiar objects and forms
• Untuk mampu melihat, individu perlu tahu sebelumnya gambar itu memuat / menyajikan apa saja
• Yang penting : Hal “essential”, baik untuk bentuk ataupun fungsi
• Kemampuan individu untuk membedakan antara bagian yang penting dari bagian yang kurang (tidak) penting
• Juga keluasan pengetahuan umum, namun secara non-verbal (dapat dibandingkan dengan subtes-subtes Information &
Vocabulary
• Ada peranan perbedaan jenis kelamin.
Menurut Wechsler :
 Pria sering gagal dalam menemukan alis yang hilang, pada gambar profil gadis (item 14).
 Wanita sering gagal dalam menemukan draad pada gambar bola lampu (item 13)
9) BLOCK DESIGN
Mengukur :
• Intelectual functioning dalam problem solving
• Kemampuan analisis & synthesis
• Mengukur pula :
- Kreativitas
- Level of the analysis of spatial relations
- Aplikasi logika
- Perencanaan berpikir :
- Trial & Error ?
- Terrencana ? ( dengan insight ? )
10) OBJECT ASSEMBLY
Mengukur :
• Visual analysis yang dikoordinasikan dengan kemampuan meng-organisir
• Bagaimana efisiensi Subjek dalam menilai bagian
• Kreativitas dalam menyusun bagian
( Part ) menjadi objek (keseluruhan) ( Whole )
Koordinasi Visual Motoric
11). DIGIT SYMBOL
Mengukur :
• Kemampuan mempelajari tugas-tugas yang tidak familiar
• Visual-Motor dexterity
• Speed of Performance
• Berpikir assosiatif & berpikir fleksibel
• Konsentrasi
IX
TES PROYEKSI
Oleh : Dr. Hj. Rismiyati E. Koesma dan Tim

1. TES GRAFIS SEBAGAI ALAT PSIKODIAGNOSTIK
Pendekatan dalam teknik Pemeriksaan Psikologi
• Tehnik proyeksi
Dasar : Teori Psikoanalisa
Testee dijaring dengan :
o Tehnik asosiasi (Rorschach)
o Tehnik konstruktif (TAT)
o Completion technique (SSCT)
o Choice and ordering technique
o Expressive technique (tes grafis)

Definisi Proyeksi menurut Rappaport
“Every reaction of subyect is a reflection or projection of his private world”
Artinya semakin proyektif pernyattan subhek maka semakin jelas “his private world” dan semakin mudah diinterpretasikan kepribadiannya.
Konsekuensinya
• Dalam tes proyeksi yang kita jarring adalah primary thingking bukan secondary thingking
• Tercermin dalam instuksi tes yang tidak boleh m,engandung sugesti
• Selama mengerjakan tes subyek tidak paham akan penilaian dalam tes, sehingga ia semakin banyak mengungkapkan kepribadian secara tidak sadar
• Tema proyeksi sifatnya menantang artinya kondisi psikologis digiatkan namun tidak bias secara merata terungkap dalam setiap tes proyeksi
• Proyeksi mula-mula dibuka tabirnya melalui filter yaitu tema proyeksi, kemudian dari hasil tes proyeksi diinterpretasikan melalui cirri-ciri proyeksi (khususdalam tes grafis, diteliti melalui cirri-ciri grafisnya)
Karya Grafis
Coretan, tulisan tangan, gambar dan lukisan yang digarap dan dihasilkan manusia atas dasar intensionalitas maupun akibat pengaruh tak sadar terhadap dirinya
Definisi kerja
- Dokumentasi / informasi dua dimensi dari gerakan motorik
- Bahan dan alat (cirri budaya)
- Hasil berupa gestalt → makna ekspresif, komunikatif simbolis – informatif
Tuntutan Fungsi-fungsi
• Persepsi dan impresi……….introversi
• Unsur sadar………………….tidak sadar
• Gerakan motorik…………….dengan / tidak ada tujuan
• Ekspresi gestalt
• Proyeksi diri…………………..dalam dimensi ruang waktu

Interpretasi
Cara Kerja


Bentuk Makna

Karya Grafis




Kepribadian


Struktur Dinamika

Bentuk, makna, cara :
• Elemen gerak
• Elemen ruang
• Elemen bentuk
• Elemen warna
• Elemen konten
TES DAM
MaterI tes: kertas putih dan pensil HB.
Instruksi: Subyek diinstruksikan untuk menuliskan identitas terlebih dahulu.
Instruksi untuk tes ini: “Gambarlah orang”.
Setelah subjek selesai menggambar, instruksi selanjutnya adalah:
1. Siapa orang yang subyek gambar?
2. Apa hubungannya dengan subyek?
3. Berapa usianya?
4. Aktivitas apa yang sedang dilakukan orang dalam gambar tersebut?
5. Sebutkan minimal 3 sifat baik dan 3 sifat buruk dari orang yang digambar tersebut!
• Subjek diminta untuk mengambil sehelai kertas kosong, mengisi identitas, dan menggambar orang dengan jenis kelamin berbeda dengan gambar yang dikerjakan sebelumnya. Setelah subjek selesai menggambar, kembali diinstruksikan point 1 hingga 5.
TES BAUM
Material tes: kertas putih dan pensil HB.
Instruksi: awalnya subYek diinstruksikan untuk menuliskan identitas terlebih dahulu. Instruksi tes ini: “Gambarlah sebuah pohon”. Apabila subjek menanyakan jenis pohon yang boleh digambar, tester menjawabnya dengan kata terserah. Setelah selesai menggambar, instruksi terakhir adalah menuliskan nama pohon yang telah digambar.
Tes WZT
Peralatan: lembar tes wartegg, pensil HB, penghapus. Instruksi tes: “Pada kertas ini Saudara lihat ada 8 buah kotak. Di dalam setiap kotak terdapat tanda yang kecil. Tanda-tanda ini tidak mempunyai arti khusus, mereka hanya merupakan bagian dari gambar yang akan atau harus Saudara buat nanti dalam tiap kotak. Saudara boleh menggambar apa saja dan mulai dari kotak mana saja. Saudara tidak perlu mengikuti urutan kotak-kotak seperti pada kertas ini, tetapi saudara diminta untuk memberi nomor urut pada gambar-gambar yang saudara buat sesuai dengan urutan saudara menggambar, yang mana yang saudara buat pertama, kedua, dan seterusnya. Waktu untuk menggambar tidak terbatas. Saudara boleh menggunakan penghapus, tetapi kertas tidak boleh dibalik.”
Setelah subjek selesai menggambar, subjek dminta memberikan nama/judul gambar-gambar yang dibuatnya pada bagian yang putih. Setelah itu, subjek diminta menuliskan tanda-tanda di samping nomor urut sebagai berikut:
• Tuliskan huruf M di samping no. urut gambar yang menurut saudara paling mudah diselesaikan
• Tuliskan huruf S di samping no. urut gambar yang menurut saudara paling sukar diselesaikan
• Tuliskan tanda + disamping no. urut gambar yang paling saudara sukai
• Tuliskan tanda – disamping no. urut gambar yang paling tidak saudara sukai

X
TES PAULI
Oleh : Dr. Ahmad Gimmy Prathama S.,M.Si dan Tim

INSTRUKSI TES PAULI
1. Di hadapan Anda ada lembaran dengan angka-angka tersusun dari atas ke bawah dalam lajur berjajaran dari kiri ke kanan.
2. Di mulain dengan lajur paling kiri, tugas Anda ialah menjumlahkan tiap angka dengan angka di bawahnya, dengan demikian tiap angka digunakan dua kali dalam penjumlahan, terkecuali angka teratas dan terbawah.
3. Tuliskanlah hasilnya di samping kanan ruang antara dua angka yang bersangkutan, tuliskanlah angka satuannya saja (contoh!)
4. Bila di rasa salah menuliskan hasilnya – jangan dihapus! Coretlah angka tersebut, tuliskanlah angka yang di rasa benar di kanannya.
5. Pada saat-saat tertentu Anda akan mendengar aba-aba “garis”/”strip” – buatlah saat itu juga garis/strip tepat di bawah hasil penjumlahan terakhir (contoh!), dan teruslah menjumlahkan tanpa tunggu aba-aba lagi.
6a. Kerjakanlah angka demi angka, selesaikanlah lajur demi lajur (ulangi : “lajur demi lajur”), dari yang paling kiri sampai dengan yang paling kanan.
6b. Selesai satu halaman, lanjutkan ke halaman baliknya dengan cara membalik demikian (contoh!)
6c. Bila lembar tes perlu tambah – acungkan tangan jelang habis!
7. Bila ada lajur yang terlewat – jangan bingung! Teruslah ke lajur berikutnya, jangan kembali ke lajur yang terlewat (ulangi : “jangan kembali ke lajur yang terlewat”)
Paham semua? Ada pertanyaan?
Kalau tidak ada – tunggu aba-aba,
kita mulai bersama-sama !
8. Kerjakanlah sebaik-baiknya!
Kerjakanlah secepat-cepatnya!
Usahakan jangan membuat salah !

Bersiap-siap – awas – Ya!!!

Jumlah Salah Dibetulkan Penyimpangan Tinggi Temp. Puncak
>3300 <0.5% <0.6% 2.6-3% 47-58 16,17,18
2350-3300 0.6-1.6% 0.7-2% 3.1%-4% 36-46 13,14,15
<2350 >1.6% >2.1% >4%
<2.5% <35
>59 <12
>19

- Simpangan adalah sumber energi
- Ada 2 aspek yang bisa digali oleh tes pauli:
• Prestasi: angka-angka, jumlah
• Kepribadian: grafik, puncak, tinggi, simpangan

Cara Membuat laporan pauli
1. Tetapkan taraf Pauli
2. Hasil awal:
3. Penurunan awal/Titik balik (hasil awal sampai titik terendah)
4. Salah /Dibetulkan
5. Simpangan
6. Tanjakan
7. Titik Puncak
8. Berbagai kombinasi:
Taraf PAULI + HA + PA + Sim + TA

• WILHELM WUNDT (Leipzig) – fisiolog, terkesan metoda IPA (observasi, eksperimen)
• 1875 Laborat. Lit. Psi. (pertama di dunia)
• 1888 (Jan) A(nton) OEHRN (murid Kraeplin)
o Bilangan tunggal dijumlah terusan sampai jumlah 100 lalu balik ke 0 selama 2 jam diseling bunyi gong tiap 5″.
o Tujuan : cari perbedaan individual
o Hasil : 3050 ± 538 / jam
o Peserta : E. Kraeplin & murid-muridnya
o Berkembang : “ARBEITSPROBE” (penggal/contoh/sampel kerja)  cermin kegiatan kerja

Tahun 1936 Prosedur dibakukan : RICHARD PAULI
• Lembar Tes
• Lembar Grafik
• Instruksi Tes
• Lama Tes (durasi)
• Norma (usia, pendidikan, jenis kelamin)
Sejak R. Pauli (Maret 1951+) berangsur-angsur disebut Tes Pauli